Hiperurisemia pada anak merupakan peningkatan kadar asam urat serum di atas persentil 95 untuk usia dan jenis kelamin. Kondisi ini kerap tidak disadari karena gejalanya samar dan sering dianggap sebagai nyeri tumbuh. Padahal hiperurisemia berkaitan erat dengan gangguan metabolik yang dapat menetap hingga dewasa.
Pola asuh berperan besar dalam pembentukan faktor risiko. Kebiasaan makan dan aktivitas yang ditanamkan orang tua menentukan status kesehatan anak dalam jangka panjang. Oleh karena itu pemahaman terhadap kondisi ini menjadi bekal penting bagi setiap keluarga.
Memahami Hiperurisemia pada Masa Kanak-Kanak
Kadar asam urat normal anak bervariasi, umumnya berada di bawah 5,5 mg/dL pada anak perempuan dan 6,0 mg/dL pada anak laki-laki. Jika nilai ini terlampaui, anak dikatakan mengalami hiperurisemia. Kondisi ini dapat memicu kristalisasi urat di ginjal maupun persendian.
Menurut studi di Asia, prevalensi hiperurisemia pada anak mencapai 10 hingga 20 persen pada populasi obesitas. Sebagian besar kasus tidak menimbulkan gejala, namun beberapa anak menunjukkan nyeri sendi, bengkak, atau nyeri pinggang. Memahami asam urat pada anak membantu orang tua mengenali tanda awal dan segera berkonsultasi.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Faktor genetik menyebabkan sekitar 10 persen kasus hiperurisemia pada anak. Sisanya dipengaruhi oleh diet tinggi purin, asupan gula berlebihan, dan gangguan fungsi ginjal. Obesitas juga menjadi faktor risiko utama karena meningkatkan produksi asam urat dan menurunkan ekskresinya.
Anak dengan sindrom metabolik memiliki kadar asam urat lebih tinggi jika disertai hipertensi atau dislipidemia. Beberapa obat seperti diuretik juga dapat memicu hiperurisemia. Oleh karena itu skrining hiperurisemia anak disarankan pada anak dengan riwayat keluarga atau obesitas.
Peran Pola Makan terhadap Kadar Asam Urat
Makanan tinggi purin, seperti jeroan, daging merah, dan sarden, meningkatkan beban metabolik asam urat. Fruktosa dari minuman manis juga mempercepat produksi asam urat melalui jalur adenosin trifosfat. Kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis pada anak berhubungan langsung dengan peningkatan kadar asam urat.
Sebaliknya, susu rendah lemak, sayur hijau, dan buah ceri dilaporkan menurunkan risiko hiperurisemia. Orang tua perlu menyeimbangkan menu harian dan membatasi porsi makanan olahan. Perencanaan pola makan anak asam urat sebaiknya melibatkan sayur serta sumber protein rendah purin seperti tahu dan tempe.
Hubungan Obesitas dengan Hiperurisemia
Jaringan lemak visceral menghasilkan sitokin proinflamasi yang mengganggu sensitivitas insulin. Resistensi insulin kemudian mengurangi kemampuan ginjal membuang asam urat. Akibatnya anak obesitas memiliki kadar asam urat yang secara signifikan lebih tinggi.
Penurunan berat badan 5 hingga 10 persen pada anak obesitas terbukti menurunkan kadar asam urat secara bermakna. Aktivitas fisik teratur dan pembatasan kalori menjadi intervensi utama. Intervensi terhadap obesitas anak asam urat tidak hanya memperbaiki kadar asam urat, tetapi juga profil lipid dan tekanan darah.
Strategi Pencegahan dan Pola Asuh
Pola asuh otoritatif yang menerapkan batasan dan dukungan emosional terbukti efektif membentuk kebiasaan makan sehat pada anak. Hindari penggunaan makanan sebagai hadiah karena memperkuat preferensi terhadap makanan manis dan tinggi lemak. Batasi screen time maksimal dua jam per hari dan dorong anak bermain aktif di luar ruangan.
Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi karena dehidrasi mempersulit ekskresi asam urat melalui ginjal. Sediakan camilan sehat seperti buah potong, kacang tanpa garam, dan yogurt tawar. Rutin kontrol ke dokter anak untuk memantau pertumbuhan serta memeriksa kadar asam urat bila diperlukan.
Upaya nyata untuk cegah asam urat anak harus dimulai dari contoh kebiasaan keluarga, bukan hanya pada anak. Pendekatan bertahap dan konsisten akan membantu anak menerima perubahan gaya hidup tanpa tekanan.
Kesimpulan
Hiperurisemia pada anak merupakan kondisi yang dapat dicegah melalui pola asuh yang mendukung keseimbangan gizi dan aktivitas fisik. Faktor risiko utama meliputi riwayat genetik, pola makan tinggi purin, dan obesitas. Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup secara konsisten, risiko komplikasi jangka panjang dapat ditekan secara signifikan.